Jumat, 09 November 2012

Postingan-postingan

Hai blog. sudah terhitung berapa lama ya gue ngediemin ini blog. buat ngelirik aja gak pernah. hadooooh nyesel lah pokoknya udah gak ada waktu untuk nulis lagi. sebelumnya sih gue lagi gak mau posting cerita hidup gue yang baru disini. fyi, sekarang gue udah kuliah!!! ahahaha gue kuliah di tempat yang emang gue cita-citakan sejak lama. well, kalau lo kepo sama tempat kuliah gue, buka aja di bio twitter gue @nayakee_ trus follow deh hahaha ;p.

gue tuh kepingin banget punya novel, secara gue suka banget sama yang namanya nulis, tapi ya gue gatau yah pada suka sama tulisan gue apa gak. dan gue iseng bukak tulisan-tulisan gue di note facebook, waktu itu gue belum punya blog. dan tulisan gue itu rata-rata gue buat pas zaman sma. dan gue akan memosting tulisan-tulisan itu disini, ya walaupun gak semuanya. hehe.

tulisan gue yang pertama itu judulnya Menari-menari, ini gue buat pas kelas 1 sma, ekspentasinya sih gue lupa ya untuk apa. tapi gue jadi ketawa sendiri aja sama gaya bahasa gue yang anak kelas 1 sma  ini ;p.



Menari-nari

saya berfikir dengan otak ini, jika saya mendapatkan sesuatu itu, apakah sesuatu itu akan mau menerima saya sebagai yang mendapatkanya?
tidak ingat..
hm saya tidak ingat, pernah mendapatkanya.
sesuatu itu yang datang, datang sendiri

meminta saya untuk memilikinya, saya tidak memilikinya karena dia untuk umum. saat saya berfikir lg, sesuatu yang terbentuk dalam molekul-molekul yang tersusun menjadi sel-sel yang berkumpul dalam jaringan-jaringan yang mempunyai fungsi yang menyatu untuk menjadi suatu organ yang dapat membentuk suatu sistim yang membentuk suatu individu.

bernafas
tumbuh
ingin didengar
dan kadang berteriak


tak jelas apa yang diteriakan, sesuatu itu menyuruh saya datang, datang dan saya disuruh mendapatkanya. tapi saat sesuatu itu terhina dan lepas, saya menjadi sesuatu yang tak berguna, sesuatu itu hanya ingin bermain, permainan yang membuat saya sedih.
saya berfikir lagi, dan mungkin berharap, semua itu cuma akan menjadi molekul yang mengambang dalam tubuh yang tidak jelas,
apakah akan membentuk suatu jaringan yang nyata atau hanya akan membusuk nantinya..
tidak tahu..
saya tidak berfikir lagi, dan saya menari-nari.

huakakakak entah mengapa ya gue agak geli aja sama tulisan pertama gue ini. semoga aja lo ngerti sama meaning dari tulisan ini deh ya.

lanjut yah, yang kedua ini tulisannya lumayan gue suka, dari bahasa gue yang menamakan diri gue menjadi "saya" gue jadi sadar kalau  itu terlalu kaku buat gue yang masih imut begini, akhirnya gue mulai mengganti bahasa tulisan gue menjadi "aku". kayak di tulisan gue ini, judulnya De Javu.



De Javu

Aku masih di ruanganku, di ruangan yang menjadi rumah kedua di dalam rumahku. Fentilasi berukuran lebih tinggi 3 jengkal dari kepalaku yang sering mereka sebut jendela, hampir tidak pernah kubuka. Jadi sinar matahari susah masuk, membuat ruanganku gelap, gelap dan lembab tapi tidak basah seperti embun. Mungkin lebih syahdu apabila pagi ini yang sudah tidak pantas disebut pagi, diawali dengan kamu mengambil benda yang menjadi nyawa keduamu, memasukkanya beberapa kata, dan mengirimnya ke nomor yang terpasang di benda yang menjadi nyawa keduaku. Dan aku terbangun karena bunyian yang terpasang di benda itu berdering dan memunculkan sebuah pesan baru. yang menyapaku di pagi itu. Tapi, itu hampir tidak ada. Sepi, tabu kata handphone ku.

Sudah mulai penat dan agak kadaluarsa dengan rutinitas pagiku yang itu-itu saja. Basi rasanya, ingin memulai pagi darimana, kalau itu-itu saja yang terlakukan dari tubuh tipisku ini. Setiap hari, saat kedua jendela duniaku yang mereka sebut mata, terbuka, yang pertama kulihat adalah langit-langit kamarku yang kosong, polos tak berwarna. Sekosong otakku. Ingin dimulai dari mana hari ini? Hm..bingung.

Bagaimana kalau lain ceritanya, apabila hari ini, saat ku membuka jendela duniaku bukan langit-langit kamar yang kulihat. Bukan buntelan kapuk yang ku peluk, dan bukan di ruangan lembab berukuran 2x4meter aku terbangun dari kasurku. Apa masih sempat aku menyapa matahari yang sombong dan langit yang tukang pamer?

Setiap hari hampir semuanya de javu. Aku sudah melakukan ini hari ini, besok dan lusa ini lagi, besoknya lagi ini, lagi dan lagi.

Saat malam yang menjadi hidup keduaku, ku berkata selamat tinggal kepadanya untuk meninggalkanya sebentar, bertemu bunga tidur. Dan berharap bertemu malam lagi besok, tapi aku takut kalau malam tidak mau bertemu denganku besok. Tidak tega rasanya melepas malam murung dan mengatakan selamat tinggal sebentar kepadanya, jika benar besok malam tidak mau bertemu denganku.

Aku masih diruangan 2x4 meterku yang gelap dan lembab. Masih dengan selimut dan buntelan kapukku, masih dengan jendela kamar yang tertutup, dan masih bersama de javu - de javuku. Berharap, besok de javuku berkurang karena sudah mulai bosan mengganggu pagi-pagiku yang terlewat.


aseeeek banget deh ah bahasa gue, itu tentang seorang individu yang bosen banget sama rutinitasnya setiap hari. dari tulisan itu gue belajar banyak banget kata yang diulang. gue pun terus belajar benerin kata demi kata, kalimat demi kalimat. dan biasanya kata-kata yang bagusakan menjadikan kalimat yang sempurna. dan kalimat yang sempurna itu dibacanya pasti lebih enak karena mereka tersusun menjadi sebuah cerita yang kalau dibaca sama  pembaca dan  mereka berfikir "wah inspirasi untuk nulis cerita ini pasti bagus".

dari semua  tulisan gue, yang paling gue suka itu tulisan gue yang berjudul "Yang sama"



Yang sama

Kemarin, besok, besoknya lagi, sesudah besoknya, besoknya besok, sampai besok tak mau bertemu besok, karna bosan. Malam yang dilalui sama saja. Kamu masih sama. Hingga malam bertemu malam lagi. Lampu jalan diganti tiga kali. Tapi masih sama rasanya seperti malam-malam yang kemarin. Malam yang setengah dingin, yang bintangnya pelit bersinar, yang bulanya mengumpat, yang FTV di SCTV siar jam 10 malam, yang jalanan dekat rumah masih ramai sampai pagi, yang aku masih takut tidur, yang aku terkadang masih suka berteman dengan insomnia, menyetel lagu yang sama. Donlotan kemarin, yang masih sama.
Dan kamu? Tak berubah, masih sama sejak pertama.


Kita bertemu muka dalam maya maya yang nyata, yang kamu masih bisa menyapa aku dalam sepi. Memberikan kesenangan-kesenangan yang busuk. Mengobrol dan bercanda masih seperti kemarin, kamu dengan lelucon gagalmu, dan aku dengan tertawaku yang berharap lain darimu. Dan akan berulang.


Semesta-semesta yang bohong, yang bilang seperti yang tak ingin aku dengar. Yang tidak sama dengan maksudku. Yang kamu tetap tak mengerti. Yang kamu masih mau menaruhku sebagai baterai rusak dalam almari. Dingin.


Aku masih dengan lagu-lagu itu, asal kamu tau. Aku masih betah dengan kata menunggu.


iya gue tau kok ini tulisan galau mampus, ini menggambarkan suasana hati gue yang klimaks ga ada obat. lo pasti ngerti banget lah maksut dari tulisan itu apa. okelah emang deh kalau yang namanya galau itu bikin kita tambah kreatif.

oke untuk menutup sesi postingan gue hari ini, gue akan memberikan satu tulisan gue lagi. gue juga suka banget sama tulisan gue yang ini. judulnya "Kemarin di teras Rumah"



Kemarin di teras Rumah

Ingat tidak saat kemarin si matahari dengan kostumnya yang berkilau duduk sendiri di dekat awan. Mungkin kamu tidak melihatnya karna sedang sibuk menyuguhiku segelas air dingin di teras rumahmu. Kamu bertanya, kok aku tidak seperti dulu? Saat kemarin aku masih langsing. Sebelum aku gendut karena tulang-tulangku yang lama-kelamaan membesar. Banyak sekali perubahan, tak ayal kalau kalimat "apa kabar?" lebih sering ada di selingan perbincangan. Membahas kamu yang lama, kita, lalu mereka-mereka. Kita bicara apa saja? Aku sampai lupa. Bicara lagi dan membahas hal yang tidak jauh-jauh dari kemarin, waktu aku masih sama dan kamu tidak beda.

Dan siang yang masih membujur kaku ditempatnya, masih malu-malu menunggu jarum panjang dan pendek lebih berputar ke bawah. Menemani aku dan kamu yang sedang berbincang. Bincang-bincang dari mulut ke mulut sampai hati ke hati juga sudah banyak kulakukan. Sekarang tinggal tunggu siang kembali ke tempat asalnya dan memaksaku untuk cepat pulang. Iya, aku juga merasa kalau jahat sekali si jam dinding tadi mempercepat waktu makan siang barusan. Tidak memberi kesempatan untuk cerita yang sudah ku keluarkan untuk menikmati makan siang. Rasanya jika tidak merasa terpaksa, lebih syahdu bilamana kalau gerimis kecil turun saja untuk menemani aku dan kamu di teras rumah sampai sore. Berdua disana, melepas sesuatu hal dan acap kali tidak mau pulang. Sampai siang tidak mau bertemu lagi, karna bosan. Yang menjadi penunggu setianya cuma aku dan kamu serta perbincangan-perbincangan kita yang diulang.


gue sukaaaaaa banget sama tulisan gue yang terakhir. sebenernya masih banyak banget tulisan-tulisan gue, tapi entar lagi yaaa capek nih ngetik mulu. dadaaah. piss lop n gawl.