Kamis, 16 Januari 2014

Aku Yang Aku


Yang aku pikirkan hanya hitungan - hitungan hari di depan sana,

yang kelak akan menjadi minggu, mwnjadi bulan, menjadi tahun, menjadi windu, menjadi.. Menjadi banyak. Lalu menjadi - jadi.. ah, tidak tau

Yang aku bayangkan hanya jika kamu bisa akrab dengan mereka, lalu juga aku bisa akrab dengan mereka, atau aku bisa akrab dengan keduanya, kamu dan mereka, atau kita sama - sama akrab bersama. 

Tapi pertanyaanku, apakah bisa? Bisakah pujangga? Terbesitkah?

Yang aku pikirkan hanya takut. Tolong aku pujangga, kamu yang semestinya memberikan aku dadamu yang lapang, tolong.

Senin, 07 Oktober 2013

FAILURE PERSON IS PERSON WHO DOESN'T WANT TO TRY

Selasa, 16 April 2013

Adakah kita?

Adakah kita diantara senja yang malu - malu dengan ungunya yang membekas? Angin datang - datang mengulur waktu bagaikan lekuk tubuh beringin yang menua. Aku dan kamu diantara bayangan senja - senja yang menepi, jauh, bagaikan tak ingin bertemu lagi. Sejuta cahaya bulan yang diam - diam mulai mengetuk - ngetuk keheningan diantara kita berdua, berkata permisi seakan masih tersadar kalau aku dan kamu masih di situ. Bahkan lampu taman mulai menyala, meledek bulan yang disangka kurang terang. Aku bertanya lagi. Adakah kita?

Jumat, 09 November 2012

Postingan-postingan

Hai blog. sudah terhitung berapa lama ya gue ngediemin ini blog. buat ngelirik aja gak pernah. hadooooh nyesel lah pokoknya udah gak ada waktu untuk nulis lagi. sebelumnya sih gue lagi gak mau posting cerita hidup gue yang baru disini. fyi, sekarang gue udah kuliah!!! ahahaha gue kuliah di tempat yang emang gue cita-citakan sejak lama. well, kalau lo kepo sama tempat kuliah gue, buka aja di bio twitter gue @nayakee_ trus follow deh hahaha ;p.

gue tuh kepingin banget punya novel, secara gue suka banget sama yang namanya nulis, tapi ya gue gatau yah pada suka sama tulisan gue apa gak. dan gue iseng bukak tulisan-tulisan gue di note facebook, waktu itu gue belum punya blog. dan tulisan gue itu rata-rata gue buat pas zaman sma. dan gue akan memosting tulisan-tulisan itu disini, ya walaupun gak semuanya. hehe.

tulisan gue yang pertama itu judulnya Menari-menari, ini gue buat pas kelas 1 sma, ekspentasinya sih gue lupa ya untuk apa. tapi gue jadi ketawa sendiri aja sama gaya bahasa gue yang anak kelas 1 sma  ini ;p.



Menari-nari

saya berfikir dengan otak ini, jika saya mendapatkan sesuatu itu, apakah sesuatu itu akan mau menerima saya sebagai yang mendapatkanya?
tidak ingat..
hm saya tidak ingat, pernah mendapatkanya.
sesuatu itu yang datang, datang sendiri

meminta saya untuk memilikinya, saya tidak memilikinya karena dia untuk umum. saat saya berfikir lg, sesuatu yang terbentuk dalam molekul-molekul yang tersusun menjadi sel-sel yang berkumpul dalam jaringan-jaringan yang mempunyai fungsi yang menyatu untuk menjadi suatu organ yang dapat membentuk suatu sistim yang membentuk suatu individu.

bernafas
tumbuh
ingin didengar
dan kadang berteriak


tak jelas apa yang diteriakan, sesuatu itu menyuruh saya datang, datang dan saya disuruh mendapatkanya. tapi saat sesuatu itu terhina dan lepas, saya menjadi sesuatu yang tak berguna, sesuatu itu hanya ingin bermain, permainan yang membuat saya sedih.
saya berfikir lagi, dan mungkin berharap, semua itu cuma akan menjadi molekul yang mengambang dalam tubuh yang tidak jelas,
apakah akan membentuk suatu jaringan yang nyata atau hanya akan membusuk nantinya..
tidak tahu..
saya tidak berfikir lagi, dan saya menari-nari.

huakakakak entah mengapa ya gue agak geli aja sama tulisan pertama gue ini. semoga aja lo ngerti sama meaning dari tulisan ini deh ya.

lanjut yah, yang kedua ini tulisannya lumayan gue suka, dari bahasa gue yang menamakan diri gue menjadi "saya" gue jadi sadar kalau  itu terlalu kaku buat gue yang masih imut begini, akhirnya gue mulai mengganti bahasa tulisan gue menjadi "aku". kayak di tulisan gue ini, judulnya De Javu.



De Javu

Aku masih di ruanganku, di ruangan yang menjadi rumah kedua di dalam rumahku. Fentilasi berukuran lebih tinggi 3 jengkal dari kepalaku yang sering mereka sebut jendela, hampir tidak pernah kubuka. Jadi sinar matahari susah masuk, membuat ruanganku gelap, gelap dan lembab tapi tidak basah seperti embun. Mungkin lebih syahdu apabila pagi ini yang sudah tidak pantas disebut pagi, diawali dengan kamu mengambil benda yang menjadi nyawa keduamu, memasukkanya beberapa kata, dan mengirimnya ke nomor yang terpasang di benda yang menjadi nyawa keduaku. Dan aku terbangun karena bunyian yang terpasang di benda itu berdering dan memunculkan sebuah pesan baru. yang menyapaku di pagi itu. Tapi, itu hampir tidak ada. Sepi, tabu kata handphone ku.

Sudah mulai penat dan agak kadaluarsa dengan rutinitas pagiku yang itu-itu saja. Basi rasanya, ingin memulai pagi darimana, kalau itu-itu saja yang terlakukan dari tubuh tipisku ini. Setiap hari, saat kedua jendela duniaku yang mereka sebut mata, terbuka, yang pertama kulihat adalah langit-langit kamarku yang kosong, polos tak berwarna. Sekosong otakku. Ingin dimulai dari mana hari ini? Hm..bingung.

Bagaimana kalau lain ceritanya, apabila hari ini, saat ku membuka jendela duniaku bukan langit-langit kamar yang kulihat. Bukan buntelan kapuk yang ku peluk, dan bukan di ruangan lembab berukuran 2x4meter aku terbangun dari kasurku. Apa masih sempat aku menyapa matahari yang sombong dan langit yang tukang pamer?

Setiap hari hampir semuanya de javu. Aku sudah melakukan ini hari ini, besok dan lusa ini lagi, besoknya lagi ini, lagi dan lagi.

Saat malam yang menjadi hidup keduaku, ku berkata selamat tinggal kepadanya untuk meninggalkanya sebentar, bertemu bunga tidur. Dan berharap bertemu malam lagi besok, tapi aku takut kalau malam tidak mau bertemu denganku besok. Tidak tega rasanya melepas malam murung dan mengatakan selamat tinggal sebentar kepadanya, jika benar besok malam tidak mau bertemu denganku.

Aku masih diruangan 2x4 meterku yang gelap dan lembab. Masih dengan selimut dan buntelan kapukku, masih dengan jendela kamar yang tertutup, dan masih bersama de javu - de javuku. Berharap, besok de javuku berkurang karena sudah mulai bosan mengganggu pagi-pagiku yang terlewat.


aseeeek banget deh ah bahasa gue, itu tentang seorang individu yang bosen banget sama rutinitasnya setiap hari. dari tulisan itu gue belajar banyak banget kata yang diulang. gue pun terus belajar benerin kata demi kata, kalimat demi kalimat. dan biasanya kata-kata yang bagusakan menjadikan kalimat yang sempurna. dan kalimat yang sempurna itu dibacanya pasti lebih enak karena mereka tersusun menjadi sebuah cerita yang kalau dibaca sama  pembaca dan  mereka berfikir "wah inspirasi untuk nulis cerita ini pasti bagus".

dari semua  tulisan gue, yang paling gue suka itu tulisan gue yang berjudul "Yang sama"



Yang sama

Kemarin, besok, besoknya lagi, sesudah besoknya, besoknya besok, sampai besok tak mau bertemu besok, karna bosan. Malam yang dilalui sama saja. Kamu masih sama. Hingga malam bertemu malam lagi. Lampu jalan diganti tiga kali. Tapi masih sama rasanya seperti malam-malam yang kemarin. Malam yang setengah dingin, yang bintangnya pelit bersinar, yang bulanya mengumpat, yang FTV di SCTV siar jam 10 malam, yang jalanan dekat rumah masih ramai sampai pagi, yang aku masih takut tidur, yang aku terkadang masih suka berteman dengan insomnia, menyetel lagu yang sama. Donlotan kemarin, yang masih sama.
Dan kamu? Tak berubah, masih sama sejak pertama.


Kita bertemu muka dalam maya maya yang nyata, yang kamu masih bisa menyapa aku dalam sepi. Memberikan kesenangan-kesenangan yang busuk. Mengobrol dan bercanda masih seperti kemarin, kamu dengan lelucon gagalmu, dan aku dengan tertawaku yang berharap lain darimu. Dan akan berulang.


Semesta-semesta yang bohong, yang bilang seperti yang tak ingin aku dengar. Yang tidak sama dengan maksudku. Yang kamu tetap tak mengerti. Yang kamu masih mau menaruhku sebagai baterai rusak dalam almari. Dingin.


Aku masih dengan lagu-lagu itu, asal kamu tau. Aku masih betah dengan kata menunggu.


iya gue tau kok ini tulisan galau mampus, ini menggambarkan suasana hati gue yang klimaks ga ada obat. lo pasti ngerti banget lah maksut dari tulisan itu apa. okelah emang deh kalau yang namanya galau itu bikin kita tambah kreatif.

oke untuk menutup sesi postingan gue hari ini, gue akan memberikan satu tulisan gue lagi. gue juga suka banget sama tulisan gue yang ini. judulnya "Kemarin di teras Rumah"



Kemarin di teras Rumah

Ingat tidak saat kemarin si matahari dengan kostumnya yang berkilau duduk sendiri di dekat awan. Mungkin kamu tidak melihatnya karna sedang sibuk menyuguhiku segelas air dingin di teras rumahmu. Kamu bertanya, kok aku tidak seperti dulu? Saat kemarin aku masih langsing. Sebelum aku gendut karena tulang-tulangku yang lama-kelamaan membesar. Banyak sekali perubahan, tak ayal kalau kalimat "apa kabar?" lebih sering ada di selingan perbincangan. Membahas kamu yang lama, kita, lalu mereka-mereka. Kita bicara apa saja? Aku sampai lupa. Bicara lagi dan membahas hal yang tidak jauh-jauh dari kemarin, waktu aku masih sama dan kamu tidak beda.

Dan siang yang masih membujur kaku ditempatnya, masih malu-malu menunggu jarum panjang dan pendek lebih berputar ke bawah. Menemani aku dan kamu yang sedang berbincang. Bincang-bincang dari mulut ke mulut sampai hati ke hati juga sudah banyak kulakukan. Sekarang tinggal tunggu siang kembali ke tempat asalnya dan memaksaku untuk cepat pulang. Iya, aku juga merasa kalau jahat sekali si jam dinding tadi mempercepat waktu makan siang barusan. Tidak memberi kesempatan untuk cerita yang sudah ku keluarkan untuk menikmati makan siang. Rasanya jika tidak merasa terpaksa, lebih syahdu bilamana kalau gerimis kecil turun saja untuk menemani aku dan kamu di teras rumah sampai sore. Berdua disana, melepas sesuatu hal dan acap kali tidak mau pulang. Sampai siang tidak mau bertemu lagi, karna bosan. Yang menjadi penunggu setianya cuma aku dan kamu serta perbincangan-perbincangan kita yang diulang.


gue sukaaaaaa banget sama tulisan gue yang terakhir. sebenernya masih banyak banget tulisan-tulisan gue, tapi entar lagi yaaa capek nih ngetik mulu. dadaaah. piss lop n gawl.

Selasa, 05 Juni 2012

Love for Life? or Life for Love?


Hidup itu kayak kertas, mulus banget waktu pertama kali liat. Putih bersih kayak waktu belum keisi apa-apa. kertasnya akan terlihat bagus kalau diisi coretan yang bagus dan rapih. Tapi hidup gak bisa kayak kertas yang bisa dibuang, terus didaur ulang kalau coretannya jelek dan gak rapih. Apalagi kertas yang kita butuhin itu masih banyak. Karena ya itu tadi kita masih muda jadi.. open minded aja.

Hidup itu apa ya, emm kalau menurut gue hidup itu pilihan, mungkin menurut lo juga gitu. kita gak bisa tau kalau belum memilih. Hahaha simpel sih sebenernya kita udah bisa tau kita memilih apa walau gak memilih sekalipun. Yaitu memilih untuk tidak memilih. Kita gak akan mengerjakan sesuatu itu kalau kita sendiri gak memilih. Dari buka  mata sampai tidur lagi, banyak pilihan yang udah gue jalanin. Bangun pagi, gak sarapan, telat ke sekolah, nyalin pr temen. Emang sih alasannya lupa, ya berati sama aja kayak memilih untuk gak inget sama pr itu. Emm seperti saat kita bertanya ke seseorang pun kita udah memilih untuk bertanya apa dan udah memilih untuk memprediksikan jawabannya apa. 

Pilih memilih sih sama aja dasarnya kayak status hidup. Single, iya mungkin agak terlalu abg banget ya itu kata. Single itu pilihan, tapi not bad loh. kayak misalnya gue deh, emm gue bisa memanage waktu yang gue mau dengan semau gue, tanpa ada yang ngelarang gue harus jalan sama siapa, pulang sama siapa, hmm ngelakuin kegiatan asik itu  gak musti sama pacar loh. Kayak misalnya.... cari buku di toko buku, ngehabisin waktu nulis sampai sore di cafe sambil pesen capucino, itu juga jadi hal yang paling asik. Tapi gue gak bilang mending sendiri daripada punya pacar loh. Buat apa punya pacar kalau useless. Kata Jeniffer Aniston aja di filmnya The Object Of emm Of.. apa ya gue lupa asli, isinya begini “cari satu orang yang lo sayang dan buat relationship lo berhasil sama dia”.  emang asik juga kalau kayak gitu. Tapi susah loh cari yang bener-bener disayang apalagi untuk mencapai kata berhasil.

Tapi itu ya balik lagi ke diri lo masing-masing. Mungkin ada diantara kalian yang gak betah kalau gak punya pacar, kalau gak punya pacar semacam kayak manusia kehilangan jati diri, gak ada yang bisa dipamerin kalau pas kondangan, gak ada yang bisa buat bawain belanjaan di mall, gak ada yang bisa dikasih pertanyaan “bagusan dress merah apa biru yang?”, dan gak ada yang bisa diharepin buat ngejawab pertanyaan tadi dengan “kamu cantik pake dua-duanya kok yaaang”. Eeaaaaaaa terbang deh tuh pas balik lagi ke vitting room. Ya karena itu tadi dari awal lo udah memilih untuk selalu kepingin ada sesosok orang yang setia disamping lo, dan sesosok itu bernama ‘pacar’. Sesosok yang membedakan malam minggu lo menjadi tidak biasa karena ada sesuatu yang bisa lo bedakan ke manusia-manusia lain saat lo di mall. Ya itu tadi, bisa dibilang pacar itu semacam kasta pembeda antara manusia jomblo dan enggak.

Oh iya, jarang deh malah gak pernah gue denger jawaban temen gue kalau ditanya “ketemu pacarnya waktu itu dimana? Lagi ngapain?” “ohh itu di toko buku, waktu itu lagi big sale gitu”. Nah.. sedangkan fakta yang gue temui di teman-teman gue adalah “ketemu pacarnya waku itu dimana? Kok bisa jadian?” “ooh itu :$ emm itu jadi tuh dia add bbm gue dari promote pin gitu, yaudah kopi darat deh kita di pim :$”. Hahaha. Tapi ya gak semuanya temen gue begitu sih..

Ngomongin soal ketemu, gue juga pernah ketemu-ketemu gitu. Ketemu apaan?? Gue ketemu dia. DIA SIAPA?? ketemunya dimana? Kalau ada yang nanya gitu pasti gue jawab “di depan laptop” tau kan maksut gue apa? hahaha. Tapi ya gue gak ketemu di laptop doang, ya untuk visualnya sih pernah. Apa ya.. emm dia itu beda. Matanya, hidungnya, mulutnya. Uuu gue suka banget sama mulutnya. Eitss jangan langsung berfikir yang jauh ya, maksut gue, mulutnya tuh.. bisa keluar sesuatu yang indah dan keren. Indah?? Bisa keluar bunga mawar ya? kagak lah goblook. Tapi nih ya kadang-kadang gue juga kesel, lewat mulutnya juga banyak yang jadi suka sama dia deh, apalagi cewe-cewe gitu. Huft.

Dari mulutnya juga kadang bikin orang gondok. Tau gak, kadang dia tuh freak banget, emm joke yang suka dia keluarin kadang suka bikin otak gue bertanya ke hati “apaan deh? Ketawa gak yeaaaaaa?”. Nah tapi itu yang bikin dia beda.

Basian banget gak sih? Suka suka suka diem. Diem diem diem suka. Padahal gak pernah terlintas loh. Pilihan lagi pilihan lagi, kalau yang ini gue harus memilih apa? coba ya emm coba dengan kata ‘senang’. Gue sih udah memilih untuk senang sama dia. Pake terus gak? Oke kita liat entar deh. Dari awal gue ketemu, gue udah meyakinkan diri gue untuk memilih ‘senang’. Apapun yang terjadi, apapun yang menimpa dia, gue harus coba senang, karena diawal tadi gue udah memilih untuk senang sama dia. yap, this is my way.

Sampai akhirnya.. akhirnya? Yah udah final nih? Gue juga harus nerima dia apa adanya. Nerima kalau dia gak sendiri. Sedih? Iya enggak. Gue balik mikir ke awal. Gue harus senang karena yang gue pilih saat di awal tadi itu adalah senang. Gue harus senang kalau dia gak nyaman sama gue, gue harus senang kalau dia gak cuma sama gue aja, gue harus senang kalau dia bilang kangen ke gue dan gue memprediksi perasaan dia itu sebenarnya adalah “aku kangen ditemenin sama kamu”. Dan gue juga harus senang kalau pilihan gue di awal tadi itu salah. Gue gak cuma mau senang, tapi gue juga mau memilih semua rasa yang udah terlanjur gak gue pilih. Karena di hidup cuma ada 2 pilihan kan? Happy ending atau Sad ending? Ya gue milih untuk Happy lah, walaupun gue harus memilih gak Happy dengan pilihan gue. Ya gitu deh namanya juga abg, Anak Baru Galau Gede. Gantung ya endingnya? Hehe udah ah capek ngetik mulu.

Freak



Lo harus tau ya lo harus tau ya hahahahahahaahahahahahahahahaahahhaha

opini


“meski waktu datang dan berlalu, kau takkan lekang dan terganti, selamanya” lagu “Selamanya” –OST dari film Kambing Jantan mengiringi selama gue nulis.

Mungkin itu kata-kata cuma berlaku di dunia neverlandnya Peterpan kali ya. hmm atau mungkin buat pasangan suami istri yang bener-bener jodoh dan emang cocok dari mereka awal ketemu sampai punya rumah tangga sendiri.  Kata-kata kayak gitu tuh kalo gak diucap dari hati ya bullshit namanya. Yang tua aja, hidup bertahun-tahun bisa cerai. Tapi suka heran aja banyak abg atau abg baru mau dewasa yang kalau pacaran itu lebay abis. Kayak ada lah temen gue yang belom juga sebulan pacaran tapi udah menganggap pasangan hidupnya itu buat selamanya sampai mati, “he/she is the real for me” “he/she is my true love” astagaaaaaaaa tau apa sih lo tentang true love? Kayak pasangan lo itu udah mapan aja. Buat ngedate aja pasti kan masih minta uang orang tua.

Apalagi kalau udah annive ke berapa gitu ambil contoh annive ke2 bulan deh. Kayaknya tuh seperti anniversary ke 32thn, yang mereka udah punya anak, dan anak-anaknya itu udah pada sukses dan hidup tua mereka udah tinggal diem di rumah, bahagia, pas mati ngasih warisan banyak. Gak gitu.
Sama ‘dia’ selamanya itu kan gak musti harus berlama-lama di kehidupan nyata. Emang sih, rasa sayang itu gak bisa lepas dari perasaan untuk memiliki. Rasa sayang yang true kalo menurut gue, membiarkan dia bahagia selamanya walaupun gak sama kita. ya gak muna juga sih kalau kita pada dasarnya lebih kepingin dia juga selamanya untuk kita. Tapi yang gue liat disekitar dan yang gue alami, buat apa selamanya kalau sebentar aja dia gak bahagia, dia sayang, tapi untuk apa kalo itu gak membuat dia bahagia. Jadi jatohnya emmm kayak gak sempurna aja gitu.


“meski waktu datang dan berlalu, kau takkan lekang dan terganti” mungkin kau akan terganti, namun kau takkan lekang, selamanya J. Kalo ini versi gue, gimana kalo versi lo? #-______-